Minggu, 24 April 2011

UPACARA POTONG GIGI DI BALI

UPACARA POTONG GIGI DI BALI

BAB 1

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang:
Sejak masih berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual dalam hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya hingga ia meninggal dunia. Salah satu yang harus dilalui adalah Upacara Potong Gigi atau Metatah / Mesanggih dalam Bahasa Bali. Upacara Metatah merupakan salah satu ritual yang terpenting bagi setiap individu orang Bali yang menganut agama Hindu Bali. Upacara ini menandai satu babak hidup memasuki usia dewasa secara niskala.
Upacāra mapandes disebut pula matatah, masangih yang dimaksud adalah memotong atau meratakan empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan, pada rahang atas, yang secara simbolik dipahat 3 kali, diasah dan diratakan. Rupanya dari kata masangih, yakni mengkilapkan gigi yang telah diratakan, muncul istilah mapandes, sebagai bentuk kata halus (singgih) dari kata masangih tersebut.
Bila kita mengkaji lebih jauh, upacāra Mapandes dengan berbagai istilah atau nama seperti tersebut di atas, merupakan upacāra Śarīra Saṁskara, yakni menyucikan diri pribadi seseorang, guna dapat lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur. Di Bali upacāra ini dikelompokkan dalam upacāra Manusa Yajña.
Berdasarkan pengertian upacāra Mapandes seperti tersebut di atas, dapatlah dipahami bahwa upacāra ini merupakan upacāra Vidhi-vidhana yang sangat penting bagi kehidupan umat Hindu, yakni mengentaskan segala jenis kekotoran dalam diri pribadi, melenyapkan sifat-sifat angkara murka, Sadripu (enam musuh dalam diri pribadi manusia) dan sifat-sifat keraksasaan atau Asuri-Sampad lainnya.
II. Tujuan
Adapun tujuan dari upacāra Mapandes dapat dirujuk pada sebuah lontar bernama Puja Kalapati yang mengandung makna penyucian seorang anak saat akil balig menuju ke alam dewasa, sehingga dapat memahami hakekat penjelmaannya sebagai manusia. Berdasarkan keterangan dalam lontar Pujakalapati dan juga Ātmaprasangsa, maka upacāra Mapandes mengandung tujuan, sebagai berikut:
1. Melenyapkan kotoran dan cemar pada diri pribadi seorang anak yang menuju tingkat kedewasaan. Kotoran dan cemar tersebut berupa sifat negatif yang digambarkan sebagai sifat Bhūta, Kāla, Pisaca, Raksasa dan Sadripu(enam musuh dalam diri manusia) yang mempengarhui pribadi manusia, di samping secara biologis telah terjadi perubahan karena berfungsi hormon pendorong lebido seksualitas. Sad ripu meliputi Kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), Mada (mabuk), Moha (bingung), dan Matsarya (iri hati). Keenam musuh diri itu harus dibersihkan dari setiap diri manusia, sehingga ritual ini menjadi kewajiban agar kehidupan setelahnya menjadi bersih dari semua sifat buruk tersebut. Sad Ripu yang tidak terkendalikan akan membahayakan kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu. Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya yang suci dapat mencapai surga loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).Dalam pergaulan muda- mudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana.
2. Dengan kesucian diri, seseorang dapat lebih mendekatkan dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewata dan leluhur. Singkatnya seseorang akan dapat meningkatkan Śraddhā dan Bhakti kepada-Nya.
3. Menghindarkan diri dari kepapaan, berupa hukuman neraka dikemudian hari bila mampu meningkatkan kesucian pribadi.
4. Merupakan kewajiban orang tua (ibu-bapa) yang telah mendapat kesempatan dan kepercayaan untuk menumbuh-kembangkan kepribadian seorang anak. Kewajiban ini merupakan Yajña dalam pengertian yang luas (termasuk menanamkan pendidikan budhi pekerti, menanamkan nilai-nilai moralitas dan agama) sehingga seseorang anak benar-benar menjadi seorang anak yang suputra/ baik (pahala bagi orang tua).
Dalam lontar Pujakalapati dinyatakan, seseorang yang tidak melakukan upacāra Mapandes, tidak akan dapat bertemu dengan roh leluhurnya yang telah suci, demikian pula dalam Ātmaprasangsa dinyatakan roh mereka yang tidak melaksanakan upacāra potong gigi mendapat hukuman dari dewa Yāma (Yāmādhipati) berupa tugas untuk menggigit pangkal bambu petung yang keras di alam neraka (Tambragomuka), dan bila kita hubungkan dengan kitab Kālatattwa, Bhatāra Kāla tidak dapat menghadap dewa bila belum keempat gigi seri dan 2 taring rahang bagian atasnya belum dipanggur. Demikian pula dalam kitab Smaradahana, putra Sang Hyang Śiva, yakni Bhatāra Gaṇa, Gaṇeśa atau Gaṇapati belum mampu mengalahkan musuhnya raksasa Nilarudraka, sebelum salah satu taringnya patah.

BAB 11
ISI:

Sejarah Terjadinya Potong Gigi:
Penggalian fosil – fosil manusia purba yang diketemukan di Gilimanuk yang diperkirakan berumur sekitar 2000 tahun yang lalu, menunjukkan sudah dikenalnya sistem penguburan mayat yang terlipat dan pada gigi – gigi mereka menunjukkan tanda – tanda yang telah diasah. Dengan demikian maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa upacara potong gigi sudah di kenal di pulau Bali ini sejak 2000 tahun yang lalu.

~Arti dari upacara potong gigi: Upacara ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu yang ada pada diri si anak.
~Sarana:
1 Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
2 Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
3 Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
4 Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
5 Pengurip-urip yang terdiri dari kunir serta pecanangan lengkap dengan isinya.
~Waktu: Upacara ini dilaksanakan:setelah anak meningkat dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga.
~Tempat: Seluruh rangkaian upacara potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pernerajan.
~Pelaksana: Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita ‘dan dibantu oieh
seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).
~Tata cara:
1 Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.
2 Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.
3 Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
4 Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.
5 Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
6 Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.
~Mantram-mantramnya:
1. Mantram prayascita dan bhyakala.
Om Hrim, Srim, Mam, Sam, Warn, Saçwa rogha satru winasa ya rah phat.
Om Hrim. Srim. Am. Tarn. Sam. Bam. Im, sarwa dandamala papa klesa, wenasaya rah, Um, phat.
Om Hrim, Srim, Am, Um, Mam, Sarwa,
papa petaka wenasaya rah, Um phat,
Om Siddhi guru srom, Sarwasat.
Om sarwa weghena winasaya, sarwa papa wenasaya, astu ya namah swaha. Artinya:
Om Hyang Widhi Wasa, semoga semua musuh yang berupa penderitaan, kesengsaraan, bencana dan lain-lain menjadi sirna.
2. Mantram mohon persaksian.
Om adityasya parantyoti rakta tejo nama stute, swera pang kajo mandhyaste Bhaskara ya namo namah, pranamya bhaskara dewam, sarwa klesa wia sanam, pranamya ditya siwartham bhukti mukti warapradam.
Om rang ring sah paramya Çiva dityaya namo namah swaha.
Artinya:
Om Hyang Widhi Wasa, semoga hamba mendapat perkenanMu, untuk melalui tahapan hidup ini dalam jalanMu dengan pertolongan hanya dariMu.
Om dimulyakanlah Engkau ya Tuhan.
3. Mantram alat pengasah.
Om Sang perigi manik, aja sira geger lunga antinen kakang nira sang kanaka
teka pageh, tan katekaning lara wigena,
teka awet, awet, awet.
Artinya:
Om Hyang Widhi Wasa, semoga alat-alat ini dapat memberikan kekuatan.
4. Mantram pengurip-urip.
Om urip-urip bayu, sabda idep teka urip, ang, ah.
Artinya:
Om Sang Hyang Widhi Wasa, dalam wujud Brahma Maha Sakti, semoga tenaga, ucapan dan pikiran hamba memberikan kekuatan terhadap alat-alat ini.
5. Mantram Mejaya-jaya.
Om Dirgayur Astu ta astu,
Om subham astu tat astu,
Om Sukham bhawantu,
Om Pumam bhawantu,
Om sreyam bhawantu,
Om Sapta wrddhin astu tat astu astu swaha.
Artinya:
Om Hyang Widhi Wasa semoga kami dianugrahi kesejahteraan, kebahagiaan, dan panjang umur.




BAB 111
PEMBAHASAN:

Upacara Potong Gigi
Sejak masih berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual atau upacara agama dalam hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya sampai kematiannya. Salah satunya adalah upacara Metatah/Mesangih (Potong Gigi).
Upacara Potong Gigi mengandung arti pembersihan sifat buruk yang ada pada diri manusia. Potong gigi dalam bahasa Bali Mepandes bisa juga disebut Matatah atau Mesanggih, dimana 6 buah taring yang ada di deretan gigi atas dikikir atau ratakan, upacara ini merupakan satu kewajiban, adat istiadat dan kebudayaan yang masih terus dilakukan oleh umat Hindu di Bali secara turun temurun sampai saat ini.
Upacara ini dianggap sakral dan diperuntukan bagi anak-anak yang mulai beranjak dewasa, dimana bagi anak perempuan yang telah datang bulan atau mensturasi, sedangkan bagi anak laki laki telah memasuki masa akil baliq atau suaranya telah berubah, dengan upacara ini juga anak anak dihantarkan ke suatu kehidupan yang mendewasakan diri mereka yang di sebut juga niskala.
Adapun 6 sifat buruk dalam diri manusia atau disebut juga sad ripu yang harus dibersihkan itu meliputi:
1. Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan)
2. Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih.)
3. Krodha (marahyang melampaui batas dan tidak terkendalikan).)
4. Mada (kemabukan yang membawa kegelapan pikiran)
5. Moha (kebingungan/ kurang mampu berkonsentrasi
sehingga akibatnya individu tidak dapat menyelesaikan tugas
dengan sempurna).
6. Matsarya (iri hati/ dengki yang menyebabkan permusuhan).
Jadi potong gigi bukan semata-mata untuk mencari keindahan tetapi mempunyai tujuan yang sangat mulia.
Dari semua sifat yang ada ini, bila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal- hal yang tidak baik/diinginkan, juga bisa merugikan dan membahayakan bagi anak-anak yang akan beranjak dewasa kelak dikemudian hari. Oleh karena itu kewajiban bagi setiap orang tua untuk dapat memberi nasehat, bimbingan serta permohonan doa kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar anak mereka terhindar dari 6 pengaruh sifat buruk/sad ripu yang sudah ada sejak manusia di lahirkan di dunia.
Kegiatan saat upacara:
1. Pendeta atau orang yang terhormat dalam upacara ini minta restu di tempat suci, lalu anak- anak atau remaja yang akan melaksanakan potong gigi dipercikan air suci/tirta, setelah itu mereka memohon keselamatan untuk melaksanakan upacara.
2. Pendeta melakukan potong rambut dan menuliskan lambang lambang suci dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia, untuk meninggalkan masa kanak kanak ke masa remaja.
3. Anak anak yang akan di potong giginya naik ke bale tempat pelaksaaan Mepandes dengan terlebih dahulu menginjak sesajen yang telah disediakan sebagai symbol mohon kekuatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
4. Setelah pemotongan gigi berlangsung, bekas air kumur kumur dibuang di dalam buah kelapa gading, ini bertujuan agar tidak mengurangi nilai kebersihan dan kesakralan dalam menjalankan upacara ini.
5. Lalu dilanjutkan dengan melakukan penyucian diri oleh pendeta agar dapat menghilangkan bala/kesialan untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
6. Melaksanakan Mapedamel yang bertujuan sebagai symbol restu dari Dewa Semara dan Dewi Ratih agar dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana, dalam mengarungi kehidupan di masa datang. Di saat melakukan upacara ini anak anak mengenakan kain putih dan kuning, memakai benang pawitra berwarna tridatu (merah, putih dan hitam) sebagai simbol pengikat diri terhadap norma norma agama, kemudian anak anak yang dipotong giginya mencicipi 6 rasa (pahit, asam, pedas, sepat, asin dan manis) yang mempunyai arti dan makna makna tertentu.
7. Setelah proses mapedamel dilakukan, dilanjutkan dengan upacara Natab Banten, yang bertujuan memohon anugerah kepada Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan dapat tercapai.
8. Setelah proses upacara tersebut dilakukan dilanjutkan dengan Metapak, tujuan adalah memberitahukan kepada anak nya bahwa kewajiban sebagai orang tua dari melahirkan, mengasuh dan membimbing sudah selesai, diharapkan sang anak kelak setelah upacara ini menjadi orang yang berguna, sebaliknya si anak kepada orang tua nya menghaturkan sembah sujud ungkapan terima kasih sudah dengan susah payah berkorban jiwa dan raga untuk melahirkan mereka, mengasuh, membesarkan, mendidik dan membimbing mereka menuju jalan yang baik dan benar sampai dewasa. (Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi)

KEKUATAN SUPRANATURAL
Prosesi potong gigi hanya merupakan simbolisasi saja. Gigi yang ada bukan dipotong tetapi diratakan dengan menggunakan kikir. Ada 6 gigi atas yang diratakan, termasuk gigi taring, ke 6 gigi inilah yang melambangkan Sad Ripu.
Hanya memakan waktu sekitar 10 – 15 menit untuk melakukan prosesi ini, dan yang melakukannya haruslah seorang yang ahli yang disebut sangging.Para sangging biasanya orang yang telah di inisiasi menjadi Pinandita yang memang memiliki ketrampilan untuk itu.
Mantra-mantra harus dilafalkan oleh sangging sebelum melakukan tugasnya supaya upacara berjalan dengan lancar dan semuanya dilakukan di bale keluarga.
Sangging, yang juga memiliki kekuatan supranatural ini lalu mengeluarkan sebuah cincin merah delima dan menuliskan rajahan"Ongkara" pada gigi dan dada. Cincin ini berfungsi sebagai proteksi dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka, dan juga tempat metatah biasanya juga dijaga ketat oleh beberapa orang anggota keluarga dan juga yang memiliki kekuatan supranatural.
Tak jarang pula terdengar kabar orang yang ditatah menjadi sakit, giginya rontok bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Oleh karena itu upacara metatah tak pernah dilakukan hingga sang surya berada di puncak langit.
Sebelum upacara dimulai, bagian mulut mereka(orang yang akan melakukan upacara potong gigi) diganjal terlebih dahulu dengan potongan dari kayu dadap atau tebu dan kumur-kumur dengan air perasan kunir lalu diakhiri dengan mengigit daun sirih pertanda berakhirnya proses metatah. Air liur yang keluar yang keluar ditampung dalam sebuah kelapa gading dan biasanya dipegang oleh ibu kandung.
Setelah itu merekapun diperciki dengan air suci atau Tirtha Pembersihan/Penyucian oleh Sangging. Lalu mereka pun bersembahyang di merajan keluarga, dipimpin oleh seorang pedanda untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widi Wasa untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka. Kepada leluhur mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya yang dilambangkan dengan Kewangen.
Pantangan – Pantangan dalam Upacara Potong Gigi:
Ibu-Ibu/Wanita yang sedang hamil tidak dibolehkan melakukan upacara potong gigi/ mepandes. Dasar acuannya: Lontar Catur Cuntaka.
Penjelasan:
1. Mepandes adalah suatu upacara yang menyebabkan diri cuntaka.
Lamanya cuntaka, saat dia naik ke bale petatahan, selama metatah, dan sampai selesai, diakhiri dengan mabeakala. Setelah mabeakala barulah cuntakanya hilang. Prosesi itu memakan waktu antara 1-2 jam. Walaupun masa cuntaka itu singkat, tetap saja Ibu itu kena cuntaka.
2. Bayi atau jabang bayi yang ada dalam kandungan adalah roh suci yang patut dihormati, dipuja atas perkenan Sanghyang Widhi yang “mengijinkan” roh itu menjelma kembali menjadi manusia (walaupun masih berupa janin).
Jadi Ibu yang mengandung bayi yang suci, patut dihindarkan dari penyebab-penyebab cuntaka. Tidak hanya potong gigi saja, tetapi juga semua jenis cuntaka, misalnya: ngelayat orang mati, mengunjungi penganten (pawiwahan), memegang orang-orang sakit (sakit gede – lepra, aids dll).
Jadi demi keselamatan Ibu dan Bayi, sebaiknya upacara potong gigi itu ditunda sampai bayinya lahir dan sudah berusia lebih dari 3 bulan.
Pantangan-pantangan Yang Dihindari
-Tidak boleh makan atau minum sekehendaknya selama 3 hari. Makan dan minum panas atau dingin merupakan pantangan yang utama setelah melakukan upacara poyong gigi. Karena apabila makan dan minum yang panas atau dingin maka akan merusak gigi.
-Tutur kata tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain.
- Sebelum dan sesudah melaksanakan upacara potong gigi tidak boleh meninggalkan rumah sekehendaknya. selama 3 hari.
-Waktu tidur dan makan di atur oleh orang tua setelah mendapat penjelasan sebelumnya dari pendeta yang memimpin upacara tersebut.
-Waktu mandipun diatur
-Tidak diperkenankan membunuh binatang, tidak boleh berkelahi atau mencaci maki orang lain.
Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara:
Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa ada beberapa perlengkapan upacara yang digunakan yaitu seperangkat sirih pinang, seperangkat piring adat, sebentuk emas, telur ayam, daging kelapa, gula merah, dan daun pacar. Alat perlengkapan ini melambangkan antara lain:
-Sirih pinang dan piring adat merupakan sesuatu yang harus dimuliakan pada suku bangsa Pamona pada setiap upacara tradisional sebab kedua perangkat alat ini melambangkan kesucian, kemuliaan, dan penghormatan kepada leluhurnya.
-Telur ayam melambangkan supaya mempunyai keturunan yang banyak seperti ayam.
-Daging kelapa melambangkan supaya hati mereka lemah lembut seperti daging kelapa tersebut.
-Gula merah melambangkan supaya mempunyai masa depan yang manis seperti gula. Artinya agar dalam menjalani hidupnya kelak senantiasa mendapat kesenangan dan kedamaian hidup.
-Daun pacar melambangkan agar mereka kelak mudah mendapat jodoh yang baik.
Bagi seseorang yang belum sempat mengikuti upacāra Mapandes, dan maut telah menjemput, berbagai tanggapan muncul, terhadap keadaan ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, melalui keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu memberikan jalan ke luar, sebagai berikut:
1. Mapandes adalah upacāra Manusa Yajña (Śarīra Saṁsakara) yang patut dilaksanakan pada saat seseorang masih hidup (sangat baik ketika remaja, belum berumah tangga). Mapandes bagi orang yang telah meninggal sesungguhnya tidak perlu dilakukan.
2. Bila orang tua yang bersangkutan merasa masih punya hutang berupa kewajiban, dapat menempuhnya dengan upacāra simbolis, dengan kikir (panggur) dari bunga teratai, dilengkapi dengan andel-andel serta padi, seakan-akan yang bersangutan bermimpi diupacārakan Mapandes.
3. Dengan demikian orang tua terbebas dari hutang kewajiban kepada anaknya, sehingga roh anaknya diharapkan dapat bersatu dengan roh leluhur yang telah disucikan.
Dampak upacara potong gigi terhadap kesehatan:
Penemuan di bidang kesehatan bahwa kikir gigi cenderung berdampak negatif sehingga lebih baik dihindari. Alasan tersebut telah menggoyah posisi upacara Mepandes. Tradisi mengikir gigi juga dapat dijumpai di sebagian besar daerah kebudayaan Jawa khususnya beberapa tingkat generasi di atas generasi saat ini. Barangkali, karena alasan kesehatan, ritual ini telah menguap: kikir gigi pada umumnya mengikis email atau bagian ujung gigi sehingga gigi menjadi rentan terhadap kerusakan dan infeksi. Dalam masyarakat modern, kikir gigi dilakukan lebih didorong oleh motif kecantikan dan dilakukan oleh dokter gigi.


BAB 1V
PENUTUP:
 KESIMPULAN
Dari serangkaian upacara diatas dapat kita pahami bahwa dalam diri setiap manusia sejak mereka dilahirkan sudah terdapat sifat yang tidak baik, bila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal- hal yang tidak baik/diinginkan, juga bisa merugikan dan membahayakan bagi anak-anak yang akan beranjak dewasa kelak dikemudian hari. Dengan melakukan upacara Mepandes ini anak yang sudah dewasa diingatkan dan diajarkan untuk tidak terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama dan bisa menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa.
Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak
dewasa,meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.
Prosesi potong gigi ini memang membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena prosesinya membutuhkan beberapa kelengkapan sesajen dan juga banyak keluarga yang hadir.Mahalnya biaya membuat orang Bali lebih memilih ritual Metatah ini dilakukan berkelompok untuk menghemat biaya.

Informasi ini di kutip dari:
 Buku berjudul: Manusa Yadnya
 Karangan : Rai, dkk
 Penerbit: Hanuman Sakti, Jakarta, 1994

Senin, 04 April 2011

screen filter

Screen Filter

a. Definisi
Screen filter (Layar Filter)adalah jenis filter menggunakan layar kaku atau fleksibel untuk memisahkan pasir dan partikel halus lainnya dari air.

b. Keuntungan & kerugian
• Keuntungan screen filter yaitu :
Digunakan untuk memisahkan filter pasir dan partikel halus lainnya dari udara atau air untuk aplikasi irigasi.
• Kerugian screen filter yaitu :
Screen filter tidak di gunakan untuk menyaring bahan organik , seperti ganggang jenis kontaminan yang biasanya menyumbat saringan bila penurunan tekanan yang siknivikan terjadi difilter.

c. Mekanisme kerja
Mekanisme layar filter dalam gaya luar (gaya hidrolik atau mekanik) yang akan ditekan untuk membentuk bawah tindakan pori-pori, adsorpsi menghasilkan utama, air menyaring padatan tersuspensi. Backwash, pencabutan serat filter menekan gaya mengembang, desorpsi terserap padatan dan diskors dan bilas dengan air backwash dihapus. Sebagai bahan serat yang sangat tipis, ditekan untuk membentuk pori-pori juga sangat kecil, sehingga akurasi penyaringan yang sangat tinggi, baik yang ideal adalah filter. Namun, jika air minyak, akan sangat merepotkan. Karena serat sintetis umumnya pro-minyak, minyak akan memiliki tepi penyerapan yang kuat, sementara minyak diserap ke serat filter pada filter setelah serat sebagai pengikat untuk tetap bersatu, itu adalah rilis sulit, backwashing sulit. Filter ini berlaku untuk air sebagai sumber air air penyaringan air dalam formasi permeabilitas rendah. Memiliki aplikasi yang telah lebih berhasil. Selain itu, beberapa lembaga penelitian dalam negeri (seperti Jianghan Mesin Research Institute) adalah mempelajari-minyak non-serat dan modifikasi serat, tujuan dari filter ini adalah digunakan untuk menyaring minyak dalam air yang dihasilkan, telah membuat kemajuan besar. Jika bahan serat dapat sendiri mengurangi daya serap minyak ke tingkat yang memadai, media fiber filter, udara bagian Ingersoll-Rand kompresor, khususnya serat filter akan ladang minyak permeabilitas rendah menghasilkan air air injeksi ulang perangkat ideal filter.

d. Aplikasi dalam dunia farmasi
Aplikasi dalam dunia farmasi yaitu:
- Digunakan dalam saringan minyak dan cairan lainnya.
- Penggunaannya dalam industri untuk suatu aliran cairan kristal kasar
- penjernihan air minum
- pengolahan limbah cair
- pemasangan pada layar monitor dapat menghindari keluhan pada mata


2.2. Depth filter

a. Definisi
Depht filter adalah filter berbagai filter yang menggunakan porous media filtrasi untuk mempertahankan partikel di seluruh media, bukan yang hanya di permukaan medium. Filter ini biasanya digunakan ketika cairan yang akan disaring mengandung beban tinggi partikel karena, relatif terhadap jenis lain filter, mereka dapat mempertahankan massa besar partikel sebelum menjadi tersumbat.
Untuk menyaring sejumlah besar cairan maka penggunaan penyaring abses – selulosa (penyaring dalam ) adalah sangat tepat. Lapisan tersebut terdiri dari suatu jaringan rapat serabut selulosa dan serabut abses dengan ketebalan kira – kira 4 mm. Partikel dengan garis tengah yang besar dihilangkan dari larutan melalui kerja ayakan. Sedangkan partikel dengan dimensi lebih kecil melalui adsorpsi.

b. Keuntungan & kerugian
Keuntungan depth filter yaitu :
• Sebagai penyaring di laboratorium ( penyaring satu lapis ).
• Sebagai penyaring berlapis banyak yang menyatu dalam alat penyaring lempeng.
• Sebagai penyaring yang dilakukan dengan diberikan tekanan atau hampa udara.
• Lapisan yang bertanda EK pada umumnya di gunakan dalam penyaring bebas bakteri.

Kerugian depth filter yaitu :
Adanya pelepasan serabut asbes dari penyaring dan masuk kedalam filtrat.akibatnya akan timbul permasalahan toksikologis yang baru dikenali dkemudian hari, bahwa serabut asbes dapat menimbulkan kanker melalui kerja rangsang.

c. Mekanisme kerja
Mikroorganisme yang besar seperti ragi,jamur lain dan bentuk sporanya serta bakteri berukuran besar dapat terjaring. Jenis FKS memiliki kemampuan menjerat yang jauh lebih kuat terhadap pengotoran bakterial. Jenis ini akan menjerat seluruh kuman patogen dan sporanya serta pirogen material penyaring – filtrasi. Garis tengah porinya sesuai dengan lapisan penyaring SEITZ.

d. Aplikasi dalam dunia farmasi
Biasanya digunakan dalam industri untuk menyaring mikroorganisme yang besar sepaerti ragi, jamur dan bentuk sporanya, serta bakteri berukuran besar.





2.3. Cake filter

a. Definisi
Cake filter adalah Bahan padat atau setengah padat terkonsentrasi yang dipisahkan dari cairan dan tetap pada filter setelah penyaringan tekanan. Filter cake disebut juga dengan Blotong yang merupakan limbah padat hasil dari proses produksi pembuatan gula, dimana dalam suatu proses produksi gula akan dihasilkan blotong dalam jumlah yang sangat besar.

b. Keuntungan & kerugian
Keuntungan Cake filter yaitu:
• Mudah Digunakan, Memiliki sistem mekanisme yang sederhana sehingga pengoperasian dan pengeluaran cake menjadi mudah
• Fleksibel, Memudahkan untuk menambah atau mengurangi kapasitas cake yang diinginkan dengan menambahkan atau mengurangi plate filter dalam unit filter press.
• Biaya Perawatan Rendah, Karena filter press menggunakan komponen-komponen yang bergerak secara minimal sehingga biaya perawatan yang dibutuhkan lebih ekonomis
Kerugian cake filter yaitu:
Pada awal filtrasi sebagian partikel padat masuk kedalam pori medium dan tidak dapat bergerak lagi, tetapi segera setelah itu terkumpul pada permukaan septum. Setelah periode pendahuluan yang berlangsung beberapa saat itu zat padat itulah yang melakukan filtrasi bukan septum lagi. Ampas itu terlihat mengumpul sampai ketebalan tertentu pada permukaan itu dan harus sewaktu-waktu dikeluarkan.

c. Mekanisme kerja
Pada awal filtasi sebagaian partikel padat masuk ke dalam pori medium dan tidak dapat bergerak lagi , tetapi segera setelah itu bahan itu terkumpul pada permukaan septum. Setelah periode pendahuluan yang berlangsung beberapa saat itu , zat padat itulah yang melakukan filtrasi , bukan septum lagi. Ampas itu terlihat mengumpul sampai ketebalan tertentu pada permukaan itu dan harus sewaktu – waktu di keluarkan.

d. Aplikasi dalam dunia farmasi
Aplikasi dalam dunia farmasi di gunakan filter cake di gunakan untuk membantu perusahaan farmasi untuk mempercepat produksi dispersi blotong dengan menghilangkan pra- perendaman dan memungkinkan konfigurasi cepat dari zona geser mixser dalam rangka mencapai geser yang diinginkan. Dalam pengoperasian peralatan filtrasi cake filter berfungsi:
- Menyaring ampas
- memisahkan padatan dengan jumlah relatif besar sebagai suatu kue kristal atau lumpur
- membersihkan cairan dari padatan sebelum dibuang.


2.4. Membrane Filter

a. Definisi
Membran filter atau "membran" adalah film polimer dengan peringkat pori tertentu.Membran mempertahankan partikel dan mikroorganisme yang melebihi peringkat pori mereka dengan bertindak sebagai penghalang fisik dan menangkap partikel seperti pada permukaan membran. Terutama selulosa asetat filter yang memiliki pori-pori dari berbagai diameter maksimum sehingga mencegah bagian dari mikroorganisme (seperti virus atau bakteri) lebih besar dari ukuran tertentu. Kunci keunggulan dari teknik filtrasi membran terletak pada keistimewaan kertas membran yang memiliki pori-pori lebih kecil dari benda yang disaring dan hanya mempunyai tebal 0,1mm ini. Ukuran pori-pori kertas membran yang tersedia adalah 0,2um, 0,45um, 0,65um, 0,8um, dan 1,2um.

b. Keuntungan & kekurangan
Kelebihan teknik filtrasi membran dibanding metode lain yaitu :
• Dapat menganalisa sampel dengan volume yang besar dalam waktu yang singkat yang dibatasi oleh kekentalan dan kekeruhan cairan sampel.
• Dapat menganalisa sampel dengan jumlah mikroba yang sedikit (peningkatan keakuratan pendeteksian mikroba).
• Inhibitor pada sampel yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba seperti antibiotik, klorin atau zat pengawet dapat terbilas.
• Pada umumnya cawan yang digunakan berukuran kecil (50mm) sehingga dapat menghemat penggunaan media dan tempat pada inkubator.
• Praktis dalam preparasinya, dapat dilakukan berulang kali penyaringan (melipatgandakan cabang corong) dan reprodusibel.
• Sangat cocok untuk mikroba aerob (jika dibandingkan dengan pour plate) yang sebagian besar menjadi faktor pengontaminasi yang penting pada produk industri.
• Melalui proses pengeringan tertentu, kertas membran yang telah ditumbuhi koloni dapat dijadikan dokumen atau data permanen demi kepentingan perekaman data.
Sedangkan kekurangan teknik ini yaitu :
• Kurang cocok untuk menghitung sampel dengan jumlah mikroba yang terlalu pekat walaupun pengenceran dapat dilakukan dengan pengenceran bertingkat.
• Beberapa jenis mikroba yang berdiameter lebih kecil dari pori seperti Rickettsia dan Mycoplasma mampu lolos dari pori kertas membran.
• Kurang praktis untuk menghitung mikroba mikroaerofilik atau anaerob (kecuali dengan perlakuan tertentu).
• Sulit untuk menghitung mikroba pada sampel yang berampas atau memiliki banyak partikel (kekeruhan tinggi) karena partikel tersebut akan menyumbat pori-pori kertas membran.
• Sulit untuk menghitung mikroba pada sampel dengan kekentalan yang tinggi karena membutuhkan waktu penyaringan yang lama.

c. Mekanisme kerja
Prinsip teknik filtrasi membran ini adalah dengan menyaring cairan sampel melewati saringan yang sangat tipis dan yang terbuat dari bahan sejenis selulosa. Membran ini memiliki pori-pori berukuran mikroskopis dengan diameter lebih kecil daripada ukuran sel mikroba pada umumnya. Jadi selama proses penyaringan berlangsung, sel-sel yang terdapat pada sampel akan terjebak pada permukaan membran yang relatif luas. Selanjutnya membran dipindahkan secara aseptis dari peralatan filtrasi ke dalam cawan petri berisi media. Kertas membran ini bersifat solid sehingga dapat menahan sel yang terjebak tetap pada posisinya dan kemudian dapat berkembang tanpa bercampur dengan sel lain yang ikut terjebak juga. Nutrisi yang terdapat pada media akan berdifusi dan terserap kedalam kertas membran sehingga sel-sel yang tersebar acak dan kasat mata itu dapat tumbuh menjadi koloni yang dapat dihitung dengan mata telanjang setelah melewati masa waktu inkubasi tertentu. Bentuk, warna dan sifat lain dari masing-masing koloni tergantung kepada jenis mikroba yang berada pada kertas membran.


Cara kerja membrane filter yaitu :
1. Sterilisasi dasar corong dan corong menggunakan bunsen
2. Mengeluarkan kertas membrane dari pembungkus
3. Meletakkan kertas membrane pada dasar corong
4. Merakit peralatan dengan memasang corong pada dasar corong
5. Membuka
6. Menuang sampel dan menyalakan pompa vakum
7. Melepaskan corong
8. Mengangkat kertas membrane ke dalam cawan
9. Menginkubasi cawan pada suhu dan waktu yang tepat


d. Aplikasi dalam dunia Farmasi
Teknik filtrasi membran dalam mikrobiologi digunakan juga untuk proses sterilisasi secara mekanis (dengan penyaringan).
Teknik filtrasi membran untuk menghitung mikroba.

konsep kesehatan lingkungan

Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan
Lingkungan mempunyai pengaruh dan kepentingan yang terbesar dibandingkan tiga faktor lainnya dalam berperanan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Termasuk dalam kategori lingkungan di sini antara lain adalah lingkungan fisik, sosial budaya, pendidikan dan pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian Robert Tilden University Of Michigan dapat disimpulkan bahwa dengan peningkatan pendidikan akan meningkatkan umur harapan hidup secara bermakna. Umur harapan hidup merupakan salah satu indikator utama dalam menentukan derajat kesehatan suatu bangsa. De¬ngan demikian dapat dikatakan bahwa pelayanan kesehatan yang baik, belum tentu dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara maksimal, jika tidak disertai dengan peningkatan kondisi lingkungan serta perubahan perilaku ke arah yang menguntungkan kesehatan.
Menurut Blum ada empat peranan lingkungan dalam menyebabkan gangguan kesehatan, yaitu :1). Sebagai agent ( penyebab penyakit). Contoh peran lingkungan sebagai penyebab penyakit : adanya beberapa mikroba penyebab penyakit baik dari golongan bakteri, jamur, virus maupun protozoa, adanya zat-zat kimia di lingkungan, adanya radiasi, tekanan udara, aliran listrik dan sebagainya.2). Reservoir. Peran lingkungan sebagai reservoir dapat dijelaskan dengan adanya manusia, hewan dan benda sebagai tempat berkembang biaknya bibit penyakit. Contoh : air kotor, sampah dan sebagainya.3). Vektor. Peran lingkungan sebagai penular atau penyebar penyakit dikarenakan di lingkungan terdapat beberapa hewan yang berperan sebagai vektor penular atau pemindah bibit penyakit sehingga terjadi penularan. Contoh: lalat, kecoa, nyamuk dan sebagainya.4). Medium transmisi. Peran lingkungan sebagai medium transmisi dikarenakan lingkungan dapat berperan sebagai benda perantara agent. Contoh: udara, air, makanan dan sebaga

Menurut WHO ruang lingkup kesehatan lingkungan sebagai berikut: Penyediaan Air Minum, Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran, Pembuangan Sampah Padat, Pengendalian Vektor, Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia, Higiene makanan termasuk higiene susu, Pengendalian pencemaran udara, Pengendalian radiasi, Kesehatan kerja, Pengendalian kebisingan, Perumahan dan pemukiman, Aspek kesling dan transportasi udara, Perencanaan daerah dan perkotaan, Pencegahan kecelakaan, Rekreasi umum dan pariwisata, Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk, Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
Menurut UU No 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan (Pasal 22 ayat 3), ruang lingkup kesehatan lingkungan sebagai berikut : Penyehatan Air dan Udara, Pengamanan Limbah padat/sampah, Pengamanan Limbah cair, Pengamanan limbah gas, Pengamanan radiasi, Pengamanan kebisingan, Pengamanan vektor penyakit, Penyehatan dan pengamanan lainnya : Misal Pasca bencana.


Kesehatan Lingkungan
• Kesehatan ialah keadaan yang meliputi kesehatan badan, rohani(mental)dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit , cacat, dan kelemahan.
• Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik berupa benda hidup, benda mati, benda nyata atau benda abstrak termasuk manusia lainnya.
Kesehatan lngkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum juga.
Masalah – masalah kesehatan lingkungan di Indonesia meliputi: Air bersih, Pembuangan kotoran/tinja, Kesehatan pemukiman, Pembuangan sampah, Serangga dan binatang pengganggu, serta Makanan dan minuman
Tujuan Kesehatan Lingkungan: Terciptanya keadaan yang sesuai dari semua faktor yang ada di lingkungan fisik manusia, sehingga perkembangan fisik manusia dapat diuntungkan,kesehatan dan kelangsungan hidup manusia dapat dipelihara dan ditingkatkan, Melakukan koreksi, yakni memperkecil / memodifikasi terjadinya bahaya dari lingkungan terhadap kesehatan dan kesejatraan hidup manusia, Melakukan pencegahan,dalam arti mengefisienkan pengaturan sumber-sumber lingkungan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejatraan hidup manusia serta untuk menghindarkannya dari bahaya.
Faktor Lingkungan: 1).Lingkungan Fisik : lingkungan sekeliling manusia yang terdiri dari benda-benda yang tidak hidup(non livingthings) dan kekuatan-kekuatan fisik lainnya. Contohnya: air, udara,tanah, iklim, cuaca,,dll.2).Lingkunan Biologik : keseluruan makhluk hidup yang ada disekeliling manusia termasuk manusia itu sendiri.Makhluk hidup itu berkisardari paling kecil yaitu Virus dan mikrroba lainnya,sampai ke insekta,binatang,tumbuhan dan manusia itu sendiri.3).Lingkungan Sosial : lingkunganyang mencangkup hubungan yang kompleks antara faktor-faktor dan kondisi-kondoisi budaya, sistem nilai, adat, kebiasaan, sikap, moral, agama, pendidikan,pekerjaan,standar hidup,kehidupan masyarakat,tersedianya pelayanan kesehatan.
Komponen dari Lingkungan,meliputi: lingkungan yang hidup(biotis), lingkungan tidak hidup(abiotis), lingkungan air(hydrosfir), lingkungan udara(atmosfir), lingkungan tanah(litosfir), lingkungan biologis(biosfir), dan lingkungan sosial(sosiosfir).
Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan: Perkembangan teknologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Bahwa sannya lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit sudah sejak lama diperkirakan orang. Hippocrates(460-377 SM)adalah tokoh yang pertama kali berpendapat bahwa penyakit itu ada hubungannya dengan fenomena alam dengan lingkungannya. Dilihat dari segi ilmu kesehatan lingkungan, penyakit terjadi karena interaksi antara manusia dengan lingkungan hidup.

Pengaruh Lingkungan terhadap Kesehatan
Konsep Lingkungan
Definisi dan klasifikasi
Juli Soemirat Slamet (2000;35-36) menyimpulkan lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitarnya, baik berupa benda hidup, benda mati, benda nyata ataupun abstrak, termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk karena terjadinya interaksi diantara elemen-elemen di alam tersebut. Pada prinsipnya lingkungan ( air, udara, tanah, sosial ) tidak dapat dipisah-pisahkan, karena tidak mempunyai batas yang nyata dan merupakan satu kesatuan ekosistem. Tergantung kebutuhan, lingkungan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Lingkungan yang hidup (biotis) dan lingkungan tidak hidup (abiotis).
2. Lingkungan alamiah dan lingkungan buatan manusia.
3. Lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal.
4. Lingkungan biofis dan lingkungan psikososial.
5. Lingkungan air (hidrosfir), lingkungan udara (atmosfir), lingkungan tanah (litosfir), lingkungan biologis (biosfir) dan lingkungan sosial (sosiosfir).
6. Kombinasi dari klasifikasi-klasifikasi tersebut.
Dr. M.N. Bustan (1997;73) menyimpulkan lingkungan adalah bagian dari kehidupan manusia yang sangat penting. Gangguan lingkungan akan mengganggu kesehatan manusia. Salah satu aspek kesehatan lingkungan adalah kadar zat – zat toksik atau polusi disekitar lingkungan hidup manusia. Diperlukan pengetahuan dan upaya untuk menjaga agar udara tidak tercemar dengan polusi zat – zat yang membawa gangguan atau penyakit pernafasan.
Dainur (1995; 7-8) menyimpulkan penyakit infeksi sangat ditentukan oleh status gizi dan kemungkinan tersedianya tempat berkembang biak kuman di lingkungan hidup masyarakat tersebut. Sebagai tolok ukur tingkat kesehatan lingkungan antara lain : fasilitas air bersih terlindung yang mudah diperoleh, tempat pembuangan kotoran, tempat pembuangan air limbah, tempat pembuangan sampah yang sehat, juga pemukiman yang sehat.
Pengaruh Lingkungan terhadap Kesehatan
Juli Soemirat Slamet (2000;18-19) menyimpulkan perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Dilihat dari segi ilmu kesehatan lingkungan, penyakit terjadi karena adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan tidak selalu menguntungkan, kadang-kadang manusia bahkan dirugikan, oleh karenanya manusia selalu berusaha untuk selalu memperbaiki keadaan sekitarnya sesuai dengan kemampuannya.
Prof. Dr. Noor Nasri Noor, M.P.H (1997;28-29) menyimpulkan unsur lingkungan memegang peranan penting dalam menentukan terjadinya proses interaksi antara penjamu dan unsur penyebab dalam proses terjadinya penyakit.